Mengaktualisasikan Man Of
Future Generation Untuk Mengawal Transisi Demokrasi Menuju Indonesia
Bermartabat”[1]
AMRULOH
“Dan Kami hendak memberi karunia
kepadaorang-orang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka
pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi ” . QS.
Al-Qashas (28):5. HMI sebagai organisasi pejuang umat dan bangsa, merupakan
satu dari sekian banyak kholifah fil ardh
yang mencita-citakan kehidupan yang rahmatan
lil alamin. Oleh karenanya, transformasi nilai-nilai dasar perjuangan demi
perwujudan missi HMI, harus dijunjung tinggi. Dengan tetap dilandasi oleh
semangat persaudaraan universal, egaliter, demokratis, berkeadilan sosial,
beradab, serta istiqomah memperjuangkan kemanusiaan kaum tertindas (mustadha’afin)
dan memberontak para penindas (mustakbirin).
Mengapa
nilai perjuangan tersebut masih perlu ditransformasikan? Sebab, nilai itulah
yang digadang-gadang dapat menjawab persoalan umat dan bangsa. Mari kita
refleksi atas paparan realita bangsa ini.
Abad
ke-21 ini merupakan era modernisasi dunia. Permasalahannya, sampai hari ini
Indonesia belum sepenuhnya siap dengan persaingan global. Meskipun pada
akhirnya terpaksa dan memaksakan diri masuk dalam perangkap globalisasi.
Akibat
dari pemaksaan itu, dampak internal negeri ini yang menjadi korban pertaruhan.
Sebut saja kedaulatan politik yang tergadaikan, kemandirian ekonomi yang
semakin melemah, dan kebudayaan yang semakin tidak berkarakter.
Ketika
kemandirian ekonomi, kedaulatan dan karakter keindonesiaan telah surut, maka
tibalah saatnya Indonesia dihadapkan
pada kondisi ketidakstabilan bangsa. Diakui atau tidak, keadaan terpuruk inilah
yang musti dihadapi negara yang masih merangkak merangkak berkembang ini.
Namun
sayangnya, oknum pejabat pemeritahan justru tidak bahu membahu memperbaiki
keadaan. Yang terjadi malah sebaliknya, hampir semua oknum saling mengamankan
diri seorang dan berbondong-bondong menyejahterakan golongan semata. Bukti egoisme itu sudah cukup nyata, yakni
naiknya tingkat korupsi, kolusi dan nepotisme. Yang pada intinya, kesemuanya
tersebut telah menyurutkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Inilah tugas HMI, menyampaikan kabar gembira
kepada bangsa Indonesia. Bahwa masih ada harapan calon generasi pemimpin yang
siap menjadi pelopor perubahan. Kehadiran HMI meniscayakan untuk mengembalikan
kepercayaan masyarakat yang telah hilang tersebut.
Namun, untuk menuju cita-cita kepemimpinan
yang ideal tersebut. Dibutuhkan proses yang panjang serta tidak instan. Dengan
aktifitas kesehariannya, HMI sebagai organisasi kader, perlu menyusun dahulu
sebuah rencana. Dimulai dari akarnya, yakni proses kaderisasi. Dalam proses
kaderisasi, HMI terbiasa dengan kultur yang dinamis sesuai dengan tingkat kualitas
kader. Jadi, bukan hal yang mustahil apabila setumpuk harapan negeri ini,
nantinya akan terjawab oleh kehadiran HMI.
Tetap berprinsipkan pada jargon “Babak
baru generasi penerus pemimpin masa depan ditentukan oleh pemuda (aktivis) hari
ini”. Maka, telah sedini mungkin HMI menyiapkan tunas pemimpin itu. Sebagai
organisasi kader juga diharapkan mampu menjadi motor perjuangan dalam
mentransformasikan gagasan dan aksi. Sebagaimana rumusan dan cita yang ingin
dibangun yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan
islam dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi Alloh SWT.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan bentuk
dari “man of future generation” generasi pelopor yaitu generasi
insan yang berfikiran luas dan
berpandangan jauh, terbuka, terampil dalam ahli di bidangnya, dan sadar apa
yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk
secara kooperatif bekerja sesuai yang
dicita-citakan. Inilah wujud profil generasi yang ada di HMI masa depan,
generasi pemimpin yang mampu membentuk integritas watak dan kepribadian,
pengembangan kualitas intelektual, dan profesional.
Apabila cara-cara lama dinilai sudah tidak
lagi relevan, maka sang pemimpin akan menyusun visi baru mengenai masa depan
dengan fokus strategik dan motivasional. Visi tersebut menyatakan dengan tegas
tujuan organisasi dan sekaligus berfungsi sebagai sumber inspirasi dan
komitmen. Dengan demikian, acuan dimensi-dimensi perilaku kepemimpinan
transformasional didefinisikan sebagai rujukan dimensi perilaku kepemimpinan
yang menghasilkan keputusan dan kebijakan terhadap bawahannya, yang merupakan
cerminan dari unsur-unsur kharisma, kepekaan terhadap keunikan per-individu,
dan orientasi stimulasi intelektual. Dengan demikian, secara kesimpulan HMI
akan terbiasa dengan kultur kaderisasi yang memastikan terwujudnya gaya
kepemimpinan yang relevan di setiap zaman.
Tahun 2013 ini, geopolitik indonesia mulai
memanas hingga sampai 2014. Prinsip demokrasi yang terlanjur diamini oleh masyarakat
Indonesia, konsekuensinya harus ditegakkan seideal mungkin. Hal itu sudah
menjadi konsekuensi semua elemen masyarakat untuk menegakkan dan mengawal
perjalanan demokrasi tersebut.
Maka
dari itu dengan semagat perjuangan untuk meneguhkan martabat bangsa ini, kami
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tulungagung berkeinginan
meng-konsolidasikan ke seluruh Indonesia dalam wadah Intermediate Training
(LK-II) yang ber-tema-kan ”Meng-Aktualisasi-kan
“Man of Future Generation” demi Mengawal
Transisi Demokrasi Menuju Indonesia Bermartabat”.
[1] Disampaikan pada
Intermediate training HMI Cabang tulungagung tertera hari rabu tanggal 18
Septemberr pukul 08.00 di Villa argo wilis.
