Jumat, 02 Mei 2014

tema training


Mengaktualisasikan Man Of Future Generation Untuk Mengawal Transisi Demokrasi Menuju Indonesia Bermartabat”[1]
AMRULOH

“Dan Kami hendak memberi karunia kepadaorang-orang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi ” . QS. Al-Qashas (28):5. HMI sebagai organisasi pejuang umat dan bangsa, merupakan satu dari sekian banyak kholifah fil ardh yang mencita-citakan kehidupan yang rahmatan lil alamin. Oleh karenanya, transformasi nilai-nilai dasar perjuangan demi perwujudan missi HMI, harus dijunjung tinggi. Dengan tetap dilandasi oleh semangat persaudaraan universal, egaliter, demokratis, berkeadilan sosial, beradab, serta istiqomah memperjuangkan kemanusiaan kaum tertindas (mustadha’afin) dan memberontak para penindas (mustakbirin).
Mengapa nilai perjuangan tersebut masih perlu ditransformasikan? Sebab, nilai itulah yang digadang-gadang dapat menjawab persoalan umat dan bangsa. Mari kita refleksi atas paparan realita bangsa ini.
Abad ke-21 ini merupakan era modernisasi dunia. Permasalahannya, sampai hari ini Indonesia belum sepenuhnya siap dengan persaingan global. Meskipun pada akhirnya terpaksa dan memaksakan diri masuk dalam perangkap globalisasi.
Akibat dari pemaksaan itu, dampak internal negeri ini yang menjadi korban pertaruhan. Sebut saja kedaulatan politik yang tergadaikan, kemandirian ekonomi yang semakin melemah, dan kebudayaan yang semakin tidak berkarakter.
Ketika kemandirian ekonomi, kedaulatan dan karakter keindonesiaan telah surut, maka tibalah saatnya  Indonesia dihadapkan pada kondisi ketidakstabilan bangsa. Diakui atau tidak, keadaan terpuruk inilah yang musti dihadapi negara yang masih merangkak merangkak berkembang ini.
Namun sayangnya, oknum pejabat pemeritahan justru tidak bahu membahu memperbaiki keadaan. Yang terjadi malah sebaliknya, hampir semua oknum saling mengamankan diri seorang dan berbondong-bondong menyejahterakan golongan semata.  Bukti egoisme itu sudah cukup nyata, yakni naiknya tingkat korupsi, kolusi dan nepotisme. Yang pada intinya, kesemuanya tersebut telah menyurutkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Inilah tugas HMI, menyampaikan kabar gembira kepada bangsa Indonesia. Bahwa masih ada harapan calon generasi pemimpin yang siap menjadi pelopor perubahan. Kehadiran HMI meniscayakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang telah hilang tersebut.
Namun, untuk menuju cita-cita kepemimpinan yang ideal tersebut. Dibutuhkan proses yang panjang serta tidak instan. Dengan aktifitas kesehariannya, HMI sebagai organisasi kader, perlu menyusun dahulu sebuah rencana. Dimulai dari akarnya, yakni proses kaderisasi. Dalam proses kaderisasi, HMI terbiasa dengan kultur yang dinamis sesuai dengan tingkat kualitas kader. Jadi, bukan hal yang mustahil apabila setumpuk harapan negeri ini, nantinya akan terjawab oleh kehadiran HMI.
Tetap berprinsipkan pada jargon “Babak baru generasi penerus pemimpin masa depan ditentukan oleh pemuda (aktivis) hari ini”. Maka, telah sedini mungkin HMI menyiapkan tunas pemimpin itu. Sebagai organisasi kader juga diharapkan mampu menjadi motor perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi. Sebagaimana rumusan dan cita yang ingin dibangun yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Alloh SWT.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan bentuk dari  “man of future generation” generasi pelopor yaitu generasi insan  yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, terbuka, terampil dalam ahli di bidangnya, dan sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooperatif  bekerja sesuai yang dicita-citakan. Inilah wujud profil generasi yang ada di HMI masa depan, generasi pemimpin yang mampu membentuk integritas watak dan kepribadian, pengembangan kualitas intelektual, dan profesional.
Apabila cara-cara lama dinilai sudah tidak lagi relevan, maka sang pemimpin akan menyusun visi baru mengenai masa depan dengan fokus strategik dan motivasional. Visi tersebut menyatakan dengan tegas tujuan organisasi dan sekaligus berfungsi sebagai sumber inspirasi dan komitmen. Dengan demikian, acuan dimensi-dimensi perilaku kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai rujukan dimensi perilaku kepemimpinan yang menghasilkan keputusan dan kebijakan terhadap bawahannya, yang merupakan cerminan dari unsur-unsur kharisma, kepekaan terhadap keunikan per-individu, dan orientasi stimulasi intelektual. Dengan demikian, secara kesimpulan HMI akan terbiasa dengan kultur kaderisasi yang memastikan terwujudnya gaya kepemimpinan yang relevan di setiap zaman.
Tahun 2013 ini, geopolitik indonesia mulai memanas hingga sampai 2014. Prinsip demokrasi yang terlanjur diamini oleh masyarakat Indonesia, konsekuensinya harus ditegakkan seideal mungkin. Hal itu sudah menjadi konsekuensi semua elemen masyarakat untuk menegakkan dan mengawal perjalanan demokrasi tersebut.
Maka dari itu dengan semagat perjuangan untuk meneguhkan martabat bangsa ini, kami Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tulungagung berkeinginan meng-konsolidasikan ke seluruh Indonesia dalam wadah Intermediate Training (LK-II) yang ber-tema-kan ”Meng-Aktualisasi-kan “Man of Future  Generation” demi Mengawal Transisi Demokrasi Menuju Indonesia Bermartabat”.          



[1] Disampaikan pada Intermediate training HMI Cabang tulungagung tertera hari rabu tanggal 18 Septemberr pukul 08.00 di Villa argo wilis.

Kamis, 18 Juli 2013

Mengupas RUU Ormas

Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan sedang dibahas oleh panitia khusus di DPR. RUU ini telah menyedot anggaran untuk melakukan studi dan menyiapkan rancangan di lingkungan pemerintah sejak tahun 2000-an. Tulisan ini membahas akal-akalan di baliknya, misalnya agar RUU ini dapat menjadi dasar hukum membubarkan anarkisme berkelompok.